Tongkat Pendek

             Aku meletakan tasku dan duduk di bangku panjang di kedai wifi yang terletak di pojok alun-alun. Banyak orang yang sedang asyik dengan laptop dan gadget mereka, entah apa yang mereka lakukan aku tidak tau dan tidak mau tau. Yah, beginilah diriku yang kurang peka terhadap orang lain. Masa bodoh terhadap orang lain dan merasa bisa hidup sendiri. Di sana kulihat suasanya tidak begitu ramai. Satu dua tiga mobil lewat di dapanku di sebrang jalan sana, sekitar 6 meter dari tempat duduku.

            Suara deru mesin ngiang ngiung terdengar seperti pelengkap manisnya hari ini. Aku hidup di keluarga yang berada di tingkat ekonomi menengah ke bawah, ayahku seorang kontraktor di malaysia. tapi itu dulu, sekarang hanya pengangguran yang mengandalkan uang tabungan. Uang 13 ribu dan beberapa receh yang kubawa untuk berangkat ke kota untuk menikmati internet, maklum lah di desa tidak ada jangkauannya.

            Aku mulai membuka laptop dan charger. tombol power ku tekan, selang 15 detik kulihat batrai laptopku tinggal 8 %. Ku tancapkan segera chargerku ke laptop yang sudah kutancapkan di colokan di depanku. Ku aktifkan wifi untuk log in dengan memasukan username dan password yang telah kubeli seharga 5 ribu dan Rp 7.500 ku kuganakan untuk membeli bensin, hanya tersisa satu lembar seribuan yang ada di saku kanan celana jeansku. setelah terhubung dengan internet, ku buka blogku untuk menulis cerpen. sangat membosankan memang tapi mau bagaimana lagi, semua itu demi uang.

   "sepertinya aku mencium kabel terbakar" kata orang di sampingku sambil memonyongkan hidungnya ke samping laptop.

"hmm, iya tuh " sautku sambil mencari cari dari mana aroma itu berasal. " santai saja pak, yang penting bukan laptop kita" kataku dengan muka sedikit lesu. memang terlihat sangat cuek, tapi menurutku itu tidak masalah selama tidak merugikan orang lain.

Lalu aku melanjutkan untuk menulis cerpen, konsentrasiku sedikit terganggu saat aku melihat seorang wanita lanjut usia menyanyikan tembang macapat dengan sangat merdu layaknya sinden ternama. Setelah beberapa saat dia menyanyi tembang macapat, entah itu tembang apa aku tidak tahu. Salah seorang pemuda dengan kaos oblong dan berkerah V menghampiri wanita itu, beberapa uang receh ia berikan dengan tangan kanannya, wanita itu hanya terdiam sambil memandangi pemuuda itu yang sedang duduk. 

"nak, nak nak.. kemari lah .." dengan nada lirih wanita itu memanggil si pemuda baik hati.

Tanpa menjawabnya, si pemuda baik hati itu menghampirinya. secara spontan wanita itu menyodorkan tangannya untuk menyalami si pemuda itu. Dari kejauhan, dia terlihat sangat berterimasih dengan pemuda itu, terlihat dari raut wajahnya yang sumringah.

            Sepintas terpikir di benakku, kenapa tak kuberikan uang seribu di saku celanaku. Mungkin kalian berfikir aku adalah orang yang pelit yang bodoh, orang kikir yang miskin dan lain sebagainya. Aku tidak pernah berfikir aku sejahat itu. Aku hanya berfikir jauh ke depan saja. Jika pengemis sejahtera, akan ada benih benih pengemis yang lain dan pertumbuhannya sangat cepat. Terkadang aku juga merasa jengkel saat pengemis yang sudah tua cacat dan lumpuh. Aku hanya berfikir, kenapa keluarganya tidak berrtanggung jawab, sehingga tega menelantarkan orang tua sampai seperti itu.

            Aku ingat kata gus miek, mengapa beliau selalu memakai kaca mata hitam, itu karena ia selalu menangis saat melihat orang orang yang malang nasibnya. agar tidak ketahuan menangis, beliau menggunakan kaca mata hitam. Api dingin dalam dada ku bekam dengan kain basah. rasa kesal dan iba bercampur menjadi satu, itu membuatku sangat sakit. Aku ingin menangis karena nasibnya tidak sebaik diriku tapi aku juga marah karena kenapa dia mau jadi seperti itu. Saya yakin orang yang masa mudanya giat beribadah dan berusaha, pasti ia akan mendapatkan hidup yang layak. Namun sebaliknya bagi orang pemalas. Sungguh, ini membuatku geram. tapi sudah lah. ku abaikan saja semua itu, tidak terlalu terlarut terbawa suasana. Lagipula, dia juga bukan orang yang penting dalam hidupku. Hanya figuran hidup.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menjamah Langit

Katenbat Kenangan

Malas belajar