Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

Puisi adik kecilku

Gambar
Salah satu puisi yang di buat adikku, adek pertamaku. Aku tahu dia masih sangat polos, bahkan dia hanya bisa menggigit ujung pulpen saat berfikir untuk membuat puisi. Meskipun begitu dia terlihat menikmati. Dia sangat bingung saat saya suruh buat puisi, diskriminatif memang tapi itu mendidik. Untuk menciptakan inspirasi, saya memberinya selembar daun dan menganggap daun itu hidup seperti manusia. Lalu dia mengiyakan untuk membuat puisi. Saya akan menulis ulang jika kalian sulit membacanya selembar daun Selembar daunyang cukup indah yang tanpa bunga dan tanpa batang Kucium bungamusangat harum baunya. ku sobek sobek daunnya. Kau tak menangis. Tangisanmu tak kudengar ditelinga. Kau sangat indah bagiku Kau dapat menghiasi rumahku dengan  cukup indah.  Aku tida tahu keluargamu dan tidak tahu tempat tinggalmu, yang kutahu adalah kau hijau dan cantik Daun sangat membutuhkan air untuk sumber pangan. Coba kalau tidak ada air. Tumbuhan akan ...

Sarang burung daerah ayah

Gambar
di atas pos pengamatan Waktu itu aku berlibur ke sawangan bersama teman temanku. Tempat yang sangat indah untuk di kunjungi dan bermalam di sana. Jalan yang terjal melewati tebing berbatu dan sebelah kiri adalah jurang pantai. Sempat kawanku yang pertama kali mengunjungi, dia kira jurang pantai adalah langit. sungguh luar biasa. Bermalam di camp sambil masak malam ikan hiu yang di beli di pelelangan ikan yang di beli saat berangkat sangat nikmat. Saat senja tiba kita bisa lihat matahari terbenam dengan sempurna. Matahari bagai tenggelam kedalam perut bumi. Dari camp juga terlihat pulau nusakambangan, kerlap kerlip lampunya sungguh menawan bagaikan bintang darat. sarang burung daerah ayah Jika kita turun ke bawah, tepat di belakang saya, kalian bisa menemui goa karang yang amat besar di mana para warga memanen sarang burung. Pada waktu waktu tertentu jika kalian datang kemari, anda bisa beruntung melihat warga yang sedang memanen sarang burung lawet. harganya yang sanga...

Katenbat Kenangan

Aku sering masuk rongga kupingmu tapi aku tidak pernah masuk kedalam rongga kenanganmu Akulah yang dulu kau puja                        Saat kau gatal dalam rongga                        Kau gunakanku untuk mencoba                        membuatnya lebih baik                        Hanya itu yang aku bisa                                           Apalah daya ku, yang hanya sebatang                                           katenbat. Kapas kapas lembutku kau gunakan                    ...

Menjamah Langit

Bioma luas penuh kerikil hijau merata Semua kambing mengaku singa  Di bukit tertinggi, ada serigala mengaung seperti sang raja Penguin gurun mendewakan daun hijau Tiap sudut membicarakan iman Lorong lorong waktu menyeru taqwa Penyeru iman dan taqwa bermuka dua Hanya ingin jadi bunga di antara bunga bunga tidak semua, tapi beberapa Tirai tirai usia mulai menjelma menuju persegi tanah beraris rapi Tempat dimana cacing berpesta ria Saat udara segar masuk dalam sanubari Kau mencari nur setiap hari   Kau kumpulkan bambo sebanyak itu, untuk apa kenapa kau hanya simpan, yang akhirnya hanya menjadi tanah buta. Termakan  rayap rayap waktu,kenapa ? tak kau gunakan untuk membuat tangga Agar sampai yang maha kuasa

Malas belajar

Meja hitam dan lampu belajar ada di pojok kamar Menanti untuk ku gunakan, tapi sayang laptop dan gadget aku dewakan Menghibur diri menjadi sepinta alasan Seratus satu impian sudah kutulis, secarik kertas impian melekat di dinding dinding kamar redupku Beribu kata motivasi ku tancapkan, di memo depan pintu Apalah arti gagasan dan teori tanpa aksi ?  Hanya sebuah fiksi yang terhanyut emosi duniawi Kau sama sepertiku, menganggap semua itu mudah Sampai kapan tenaga dan akal kau manjakan Sedangkan di luar sana, banyak pejuang masa depan. Darah mengendap di ubun ubun  mereka hiraukan. Demi satu tujuan  Kau dan aku sama, pujangga kesuksesan sejati ataukah hanya sebuah mimpi Kesuksesan bukan sekedar cerita, kucari  tapi ada satu arti sukses yang hakiki, tapi sayang tak dapat ku definisi.

Tongkat Pendek

             Aku meletakan tasku dan duduk di bangku panjang di kedai wifi yang terletak di pojok alun-alun. Banyak orang yang sedang asyik dengan laptop dan gadget mereka, entah apa yang mereka lakukan aku tidak tau dan tidak mau tau. Yah, beginilah diriku yang kurang peka terhadap orang lain. Masa bodoh terhadap orang lain dan merasa bisa hidup sendiri. Di sana kulihat suasanya tidak begitu ramai. Satu dua tiga mobil lewat di dapanku di sebrang jalan sana, sekitar 6 meter dari tempat duduku.             Suara deru mesin ngiang ngiung terdengar seperti pelengkap manisnya hari ini. Aku hidup di keluarga yang berada di tingkat ekonomi menengah ke bawah, ayahku seorang kontraktor di malaysia. tapi itu dulu, sekarang hanya pengangguran yang mengandalkan uang tabungan. Uang 13 ribu dan beberapa receh yang kubawa untuk berangkat ke kota untuk menikmati internet, maklum lah di desa tidak ada jangkauannya.     ...